Tag Archives: Film Sumut bf1

Duh, Film Sumut Telah Mati…

3

Duh, Film Sumut Telah Mati…

MEDAN, KOMPAS.com – Kejayaan industri perfilman Sumatera Utara tinggal kenangan. Hal ini disebabkan pelaku industri film ini sudah banyak yang berpindah ke Jakarta dan beralih bisnis ke sektor lain. Padahal, pada era 1950 sampai 1970-an, industri perfilman Sumut berkembang baik.

”Dahulu banyak film yang dibuat di Sumut. Masyarakat juga bisa menyaksikan film-film itu di bioskop-bioskop murah yang ada di sejumlah kota,” tutur AR Qamar, mantan sutradara film Sumut saat bicara dalam sarasehan bulanan yang digelar oleh Badan Warisan Sumatera (BWS) di Medan, Sabtu (8/8).

Qamar mengatakan, kejayaan perfilman di Sumut dimulai pada era 1950-an dengan ditandai berdirinya perusahaan film. Pada 1954 berdiri perusahaan film Pesfin yang didirikan seorang aktor, yaitu Bakaruddin. Sebelumnya, dia pernah berperan dalam film-film Malaysia. Pada tahun 1955 muncul Radial Film yang memproduksi film-film berlatar belakang seni musik dan seni tari daerah Melayu, seperti film Serampang XII dan Tanjung Katung.

Pada tahun 1958, muncul Rencong Film Corporation (Refic) yang memproduksi film perjuangan kemerdekaan dalam bentuk komedi. Film ini berjudul Piso Surit dan Ordipa (Orang-orang di Kebun Para). Tidak hanya sektor swasta, Yayasan Pemerintah Daerah (Pemda) Sumut pada tahun 1961 memproduksi film Sungai Ular. Pembuatan film ini menelan empat korban jiwa dalam proses pembuatannya. Film tersebut dibintangi salah satunya oleh AS Rangkuti (Wali Kota Medan akhir 1980-an).

Sepanjang sejarah perfilman di Medan terdapat sejumlah nama yang dianggap berjasa, seperti Amir Yusuf, Ya’kub Harahap, dan Bachtiar Siagian. Sayangnya, nama-nama ini tidak banyak dikenal oleh masyarakat Medan.

Wartawan senior Sumut, Mohammad To Wan Haria, mengatakan, penyebab utama kemunduran film di Sumut adalah kehadiran jaringan bioskop nasional. Hal ini menyebabkan bioskop lokal menjadi kalah bersaing. Bioskop yang umumnya dikelola oleh pemda ini satu per satu tutup. Pemda tidak mempunyai dana lagi untuk mengoperasikan bioskop tersebut.

”Hal ini diperparah dengan hijrahnya produser film ke Jakarta. Sementara (produser) yang ada di Sumut beralih bisnis ke sektor lain,” katanya.

Begitu pun dengan nama bioskop yang pernah ada di Medan, sebagian besar hilang jejaknya dan berubah fungsi. Pada era 1950-an di Medan saja terdapat 15 bioskop. Bioskop itu di antaranya Bioskop Deli di Jalan Perdana, Bioskop Ria, Kusuma (sebelumnya bernama Capitol), Olympia di Jalan MT Haryono, Juwita di Jalan Surabaya, Minang (sebelumnya bernama Morning), Horas dan Riang (Rio) di Jalan Pandu, Cathay dan Medan di Jalan Sutomo, Asia di Jalan Wahidin, dan Bioskop Metropol (diubah namanya jadi Rencong tahun 1960-an).

Film Sumut, Film Sumut musik, Film Sumut video, Film Sumut foto, Film Sumut berita, Film Sumut Hiburan, Film Sumut malaysia, Film Sumut Melayu, Film Sumut gambar, Film Sumut lagu, Film Sumut cinta, Film Sumut cerita, Film Sumut bf1,Berita Hiburan musik, Berita Hiburan video, Berita Hiburan, Berita, Hiburan cinta, Berita Hiburan berita, Berita Hiburan awek, Berita Hiburan kontraksi, Berita Hiburan Hiburan, Berita Hiburan malaysia, Berita Hiburan Melayu, Berita Hiburan, Berita Hiburan Indonesia,Berita Hiburan gambar, Berita Hiburan cerita, Berita Hiburan pilihan, Berita Hiburan kl, Berita Hiburan bf1, Artis musik, Artis video, Artis foto,ArtisArtis berita, Artis awek, Artis kontraksi, Artis Hiburan, Artis malaysia, Artis Melayu, Artis Indon, Artis Indonesia, Artis gambar, Artis cerita, Artis pilihan, Artis kl, Artis bf1, Artis foto, Artis Indon, Artis cinta, hiburan malaysia, hiburan melayu, hiburan korea, hiburan jepun, hiburan, tayang, tayang gambar, tayang hantu, tayang artis, tayang malaysia, tayang indonesia, korea, tayang jepun, tayang china, tayang hongkong, lagu, lagu malaysia, lagu cina, lagu hantu, lagu lagu, lagu korea, lagu jepun, lagu gay, lagu indon, lagu indonesia, lagu melayu, lagu bf1